Minggu, 17 Juli 2011

PRA RANCANGAN PABRIK CAPROLACTAM PROSES SNIA-VISCOSA KAPASITAS 90.000 TON/TAHUN


INTISARI

Pabrik Caprolactam Proses Snia - Viscosa dengan kapasitas produksi 90.000 ton / tahun direncanakan didirikan pada tahun 2010 di daerah Kawasan Industri Cilegon, Banten. Caprolactam yang dihasilkan berupa Prill dengan kemurnian 99,85 % berat.

Dengan proses Snia – Viscosa, caprolactam dibuat dari bahan baku toluen, hidrogen dan asam nitrosilsulfur dengan mendasarkan pada reaksi oksidasi toluen katalis Co, hidrogenasi asam benzoat katalis palladium dan reaksi pembentukan caprolactam melalui reaksi nitrosasi dekarboksilasi dari cyclohexane carboxylic acid katalis Oleum 32 %. Pertama, reaksi oksidasi toluen berlangsung pada suhu 160 0C dan tekanan 10 atm didalam reaktor gelembung (Bubbling Reactor). Kedua, reaksi hidrogenasi asam benzoat menjadi asam sikloheksan karbosiklat fasa cair pada suhu 170 0C dan tekanan 16 atm di dalam reaktor bergelembung (Bubbling Reactor). Dan, ketiga adalah reaksi pembentukan caprolactam pada suhu 80 0C dan tekanan 1 atm didalam reaktor alir berpengaduk. Produk Caprolactam kemudian dimurnikan dengan cara direaksikan dengan ammonia didalam kristaliser lalu dipekatkan dan diumpankan ke prilling tower.

Untuk merealisasikan pembuatan caprolactam, pabrik didukung oleh Unit Utilitas yang terdiri dari unit pengadaan air (baik untuk air pendingin atau air umpan boiler), unit pengadaan steam, unit pengadaan tenaga listrik, unit pengadaan udara tekan, unit pengolahan limbah serta unit pengadaan bahan bakar dan dowtherm J.

Bentuk Perusahaan ini merupakan Perseroan Terbatas yang dipimpin oleh seorang Direktur utama dengan sistem organisasi Line and Staff. Jumlah karyawan mencapai 358 orang.

Berdasarkan pada perhitungan analisa ekonomi diperoleh Return on Investment (ROI) mencapai 14.13 %, Pay Out Time (POT) adalah 4.14 Tahun, Break Even point (BEP) adalah 68.86 %, dan Shut Down Point (SDP) sebesar 44.46 %.

Selengkapnya Download

PRA RANCANGAN PABRIK ASAM OKSALAT MELALUI PELEBURAN ALKALI SELULOSA KAPASITAS 50.000 TON/TAHUN


INTISARI 

Kegunaan asam oksalat antara lain sebagai bahan pencampur zat warna dalam industri tekstil dan cat, menetralkan kelebihan alkali pada pencucian dan sebagai bleaching, kebutuhannya sampai sekarang masih didatangkan dari luar negeri. Pembuatan asam oksalat dengan menggunakan bahan baku enceng gondok ini dilakukan dengan proses peleburan alkali selulosa. Bahan baku dalam hal ini enceng gondok dilebur dengan menggunakan larutan NaOH 50% pada suhu 200 oC. Dari proses peleburan ini terbentuk 50 % garam yang kemudian membentuk asam oksalat dan sisanya sebagai garam karbonat. Pemurnian hasil ini dicuci dengan air panas, kemudian larutan didinginkan dan dipekatkan yang akhirnya akan membentuk natrium oksalat. Dengan mereaksikan Ca(OH)2 dengan natrium oksalat akan diperoleh kalsium oksalat dan natrium hidroksida. Kalsium oksalat yang terbentuk direaksikan dengan asam sulfat sehingga diperoleh asam oksalat dan kalsium sulfat.

Kapasitas produksi pabrik dirancang 50.000 ton/tahun, membutuhkan bahan baku enceng gondok sebanyak 114734,156 ton/tahun dan natrium hidroksida 50% sebesar 172101,2325 ton/tahun. Utilitas berupa air 580,50 ribu m3/tahun diperoleh dari anak sungai, listrik 181,3 kW diperoleh dari Perusahaan Listrik Negara dan bahan bakar jenis diesel oil sebesar 5,577 m3/tahun. Pabrik direncanakan didirikan di Kabupaten Tondano Propinsi Sulawesi Utara. Bentuk perusahaan adalah Perseroan Terbatas (PT) dengan sistem garis dan staf, membutuhkan tenaga kerja sebanyak 172 orang yang didasarkan pada kebutuhan manajemen perusahaan dan unit-unit produksi yang ada di dalam pabrik berdasarkan volume pekerjaan.

Berdasarkan perhitungan evaluasi ekonomi untuk pendirian pabrik asam oksalat ini dibutuhkan Total Modal Investasi sebesar Rp. 728.519.465.952 yang terdiri dari Modal Tetap sebesar Rp. 123.848.309.212 dan Modal Kerja sebesar Rp. 109.277.919.893. Modal investasi pabrik terdiri dari 40% modal sendiri dan 60% modal pinjaman dari Bank Syariah Mandiri dengan nisba pinjaman 15% pertahun. Manufacturing cost Rp. 6.610.377.165.841 dan pengeluaran umum Rp. 734.486.351.760. Harga jual produksi sebesar Rp. 7.612.094.635.200 pertahun, dengan keuntungan sebelum dan sesudah pajak Rp. 267.231.117.599 pertahun dan Rp. 173.700.226.439 pertahun. Profitabilitas meliputi Rate of Investment (ROI) sebelum dan sesudah pajak sebesar 36,68% dan 23,84%,Pay Out Time (POT) sebelum dan sesudah pajak 1,9 tahun dan 2,6 tahun dan Break Event Point (BEP) sebesar 47,78%, Shut Down Point (SDP) sebesar 33,69% dan Interest Rate of Return (IRR) sebesar 26,69%.

Selengkapnya Download

PRA RANCANGAN PABRIK ASAM ASETAT KAPASITAS 150.000 TON/TAHUN


INTISARI

Perancangan pabrik asam asetat dengan kapasitas 150.000 ton/ tahun ini menggunakan proses karbonilasi dengan cara mereaksikan bahan baku methanol dengan gas CO. Lokasi pabrik direncanakan di kawasan Bontang, Kalimantan Timur. Bahan baku methanol didapat dari PT Kaltim Methanol Industri dan Pertamina Pulau Bunyu yang juga berlokasi di Bontang dan Pulau Bunyu, sedangkan bahan baku CO didapat dari hasil samping Unit Pembuatan CO2 PT Pupuk Kaltim yang berlokasi di Bontang,Kalimantan Timur.

Reaksi karbonilasi berlangsung optimal pada suhu 150-190 oC dengan perbandingan umpan Methanol terhadap CO adalah 1 : 1. Reaktor yang digunakan adalah reaktor bubble .yang dioperasikan pada suhu 175 oC dan tekanan 30 atm. Pada reaksi ini akan dihasilkan produk samping berupa methil asetat.

Untuk menunjang proses produksi diadakan unit utilitas yang terdiri dari unit pengadaan dan pengolahan air, steam, tenaga listrik, unit pengolahan limbah dan laboratorium untuk mengontrol kualitas dari produk.

Pada pabrik direncanakan beroperasi selama 330 hari kerja per tahun dan berdasarkan hasil analisa secara ekonomi diperoleh percent Return On Investment ( ROI ) sebelum pajak sebesar 53,90 % dan sesudah pajak 37,73 %. Pay Out Time ( POT )sebelum pajak 1,51 tahun dan sesudah pajak 2,02 tahun. Break Event Point sebesar 45,50 % dan Shut Down Point sebesar 33,46 %

Selengkapnya Download

PRA RANCANGAN PABRIK AMONIUM CHLORIDE PROSES AMMONIUM SULFAT-SODIUM CHLORIDE KAPASITAS 35.000 TON/TAHUN


INTISARI

Prarancangan pabrik ammonium chloride proses ammonium sulfat – sodium chloride dengan kemurnian 99,5 % direncanakan dengan kapasitas 35.000 ton/tahun. Dengan memperhatikan beberapa factor, seperti aspek penyediaan bahan baku, transportasi, tenaga kerja, pangsa pasar, serta utilitas, maka lokasi pabrik yang cukup strategis adalah di Kawasan industri Gresik.

Bahan baku utama berupa (NH4)2SO4 dan NaCl. Reaksi pembuatan ammonium chloride dilakukan dengan mereaksikan ammonium sulfat dengan sodium chloride dalam reactor CSTR yang dilengkapi dengan jaket pemanas dan pada kondisi tekanan 1 atm dan suhu 1000C, produk yang keluar dari reactor masuk ke rotary filter untuk memisahkan antara endapan natrium sulfat yang terbentuk untuk selanjutnya dikerimgkan di dalam rotary dryer dan diambil sebagai produk samping, sedangkan larutan ammonium chloride akan dikristalkan di dalam kristaliser dengan sebelumnya dilewatkan pada evaporator agar mencapai kondisi jenuh sebelum masuk ke kristaliser, dari kristaliser produk dilewatkan pada centrifuge untuk memisahkan antara kristal ammonium chloride dengan larutan induknya, dan selanjutnya dikeringkan di dalam rotary dryer.

Peralatan proses yang ada antara lain tangki pencampur, bin, belt conveyor, bucket elevator, pompa, reactor, rotary filter, rotary dryer, evaporator, kristaliser, centrifuge, dan heat exchanger.

Untuk menunjang proses produksi didirikan unit pendukung proses yang terdiri dari unit penyediaan air, steam, tenaga listrik, penyediaan bahan bakar, serta unit pengolahan limbah. Agar mutu bahan baku dan kualitas produk tetap terkendali, maka keberadaan laboraturium sangat diperlukan. Dalam pabrik ammonium chloride ini terdapat tiga buah laboraturium, yaitu laboraturium analitika, laboraturium pengamatan, dan laboraturium penelitian, pengembangan, dan lindung lingkungan.

Bentuk perusahaan adalah PT (Perseroan Terbatas) dengan struktur organisasi line staff. Sistem kerja terdiri dari karyawan shift dan non shift dengan jumlah karyawan sebanyak 155 orang.

Hasil analisa ekonomi terhadap prarancangan pabrik ammonium chloride diperoleh bahwa Total investasi (TCI) sebesar US$52.906.816,4 dan total biaya produksi (Production Cost) US$55.755.551,4. Dari analisa kelayakan diperoleh hasil ROI sebelum pajak 24,2% dan sesudah pajak 19,4%. POT sebelum pajak 2,9 tahun dan sesudah pajak 3,4 tahun, BEP 53,4 %, SDP 36,8% dan DCF sebesar 35,4 %.

Selengkapnya Download TA

Minggu, 26 Juni 2011

Jangan Buang Komputer Bekas, Di Dalamnya Ada Emas, Ini Cara Ambilnya

Punya komputer bekas jangan dibuang gan, didalamnya ada motherboard yang bisa disulap menjadi emas, bahkan cincin perkawinan yang mewah, begini cara memprosesnya:

Tahukah Anda jika di dalam Motherboard bekas ada emasnya, ya di konektor IDE, slot PCI Express, PCI, AGP, ISA, dan port lain, pin jumper, soket prosesor, dan DIMM (SIMM di motherboard yang lebih tua) juga slot. Semua konektor yang umumnya berwarna kuning ini sebenarnya terdapat lapisan emas yang sangat tipis sekali membungkusnya. Yuk mari kita praktekan bersama cara membuat Motherboard lama dan bekas anda menjadi sebuah cincin.

Sediakan beberapa alat bantu seperti tang berbagai ukuran, lalu cabut satu persatu konektor para slot dan port yang ada di motherboard Anda


Setelah terkumpul semua, maka siapkanlah bahan-bahan kimia untuk membantu memisahkan emas dan logam lain yang tidak kita butuhkan.

Dengan menjalankan arus listrik melalui , dengan menggunakan pengisi daya baterai biasa, tembaga di anoda (dan di pin) larut dan diendapkan pada katoda utama .Emas, terlepas dari tembaga, bentuk sedimen di bagian bawah sel. Juga mencatat bahwa suhu bak meningkat secara signifikan selama proses ini. 
Hati-hati untuk selalu menuangkan asam ke dalam air, dan bukan sebaliknya! Jika Anda melakukannya salah, pertama tetesan air yang menyentuh permukaan asam sulfat akan segera menguap dan dapat menyebabkan percikan asam.


Menggunakan filteruntuk memisah campuran dari berbagai logam dan kotoran. Dan kini sekarang semuanya larut dalam campuran asam klorida 35% dan klorin pemutih (sodium hipoklorit) sebesar 5%, dalam proporsi 2 banding 1.

2 HCl + NaClO -> Cl2 + NaCl + H2O

Hati-hati! Reaksi ini sangat eksotermik dan menghasilkan klorin, gas yang sangat berbahaya. Gas khlor digunakan sebagai senjata kimia selama Perang Dunia pertama, di bawah nama bertholite.

Bahkan, klorin di produksi dengan mencampur asam klorida dengan pemutih klorin lalu merubah emas untuk membentuk emas (III) klorida.

2 Au + 3 Cl2 -> 2 AuCl3


Untuk mendapatkan emas murni, kita sekarang perlu untuk mengendapkan emas yang dalam larutan. Untuk itu, kami menggunakan metabisulfite bubuk natrium. Dengan adanya air, natrium menghasilkan metabisulfite natrium bisulfit.

Na2S2O5 + H2O -> 2 NaHSO3
  
Natrium bisulfit ini adalah bahan yang akan memungkinkan untuk mengendapkan emas.

3 NaHSO3. AuCl3 + 2 + 3 H2O -> 3 NaHSO4 + 6 HCl + 2 Au

Hasil lalu dilebur dan dipanaskan hingga suhu 1064 ° C (1947,52 ° F) dengan gas butana


Akhirnya jadi deh emas, dan tinggal dibentuk menjadi cincin pernikahan, gimana gan mau coba?

Sumber: http://ruanghati.com/2010/08/31/motherboard_jadi_emas/

Penempatan Fluida Pada STHE : Tube Side vs Shell Side

Letakkan lah sesuatu pada tempatnya, siapa sih yang tidak kenal dengan kata-kata ini ? Makna kata ini dapat berarti menempatkan sesuatu dengan benar, sesuai dengan fungsi dan tugas. Begitu juga dengan penempatan fluida pada sebuah Shell & Tube Heat Exchanger ( STHE ). Kita mengetahui bahwa Sebuah STHE memiliki dua buah aliran ( stream ) yang terpisah yaitu pertama pada aliran dibagian Tube dan yang kedua aliran bagian Shell. Penempatan fluida pada tempat yang tepat akan dapat memperpanjang masa penggunaan STHE serta dapat pula mengurangi cost. Penempatan fluida apakah itu dibagian shell ataupun tube dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, viskositas, temperature, flowrate dan lain – lain.

Viskositas

Viskositas dapat diartikan sebagai ketahanan fluida terhadap gaya atau tegangan geser ( shear stress ) atau dapat pula diartikan sebagai ukuran tahanan aliran fluida. Semakin tinggi nilai viskositas suatu fluida ( semakin kental ) maka akan semakin kecil kecepatan alir, begitu pula sebaliknya semakin kecil nilai viskositas suatu fluida ( fluida tersebut encer ) maka semakin tinggi pula kecepatan alir fluida tersebut. suatu Fluida dapat mengalir secara laminar maupun turbulen, untuk perpindahan panas, aliran turbulen lebih disenangi dari pada aliran laminar, karena pada aliran turbulen terdapat semacam gerakan mencampur yang dilakukan oleh purasaran – pusaran atau vortex ( disebut juga dengan arus Eddie ), gerakan atau pusaran ini membawa sejumlah energi melintasi dari layer – layer ( lapisan imaginary fluida ) sehingga menyebabkan perpindahan panas lebih merata pada seluruh fludia.

Umumnya STHE fluida yang memiliki tingkat kekentalan yang tinggi ditempatkan pada bagian shell, memang bisa saja ditempatkan pada bagian tube. Kita ingat bahwa koefisien perpindahan panas total terdiri dari koefisien panas individu baik pada shell dan tube serta ditambah dengan faktor fouling. Baik pada koefisien perpindahan panas shell maupun tube sama - sama dipengaruhi oleh kecepatan alir ( linear velocity ), kecepatan alir tersebut merupakan salah satu variable pada bilangan Reynold. Pada tube kita bisa saja menaikkan kecepatan alir dengan membuat variasi jumlah pass, semisal dari 1 menjadi 2, 4, 6, 8, dan seturusnya, namun tentunya hal ini ada batas atau limitnya, sedangkan pada shell dengan memperkecil jarak antar baffle ( baffle spacing ) kita dengan mudah dapat menaikkan kecepatan alir. Umumya lebih mudah memodifikasi jarak antar baffle dari pada melakukan perubahan pada jumlah tube.

Dengan memperkecil jarak antar baffle maka diharapkan terjadi peningkatan pada cross flow velocity shell, dengan meningkatnya cross flow velocity diharapkan tingkat turbulensi fluida juga akan semakin tinggi dengan begitu akan meningkatkan koefisien perpindahan panas shell. Baffle pada shell disamping memiliki fungsi sebagai peningkat cross flow velocity shell juga memiliki fungsi sebagai penahan atau support dari tube. Namun begitu seperti yang telah disunggung diatas , tidak tertutup kemungkinan viscous fluid di bagian tube, hal ini berlaku jika fluida tersebut memiliki tingkat korosi yang tinggi.

Korosi

Disamping fouling, korosi merupakan musuh bagi STHE, bahkan menjadi musuh bagi semua peralatan di berbagai industri kimia. Korosi tidak hanya menyebabkan life time dari peralatan yang bersangkutan tersebut menjadi lebih pendek yang lebih utama lagi menyebabkan pembengkakan cost akibat dari penggantian akibat kerusakan peralatan serta kerugian yang ditimbulkan dari terhambat proses produksi.

Untuk masalah korosi , masalah ini bisa diselesaikan dengan pemilihan material yang tepat, namun begitu sebuah STHE merupakan kumpulan dari beberapa unsur – unsur seperti tube, rear end dan front end head , shell cover dan lain – lain, sehingga hitung – hitunganya untuk pemilihan material yang tepat adalah mana yang lebih memberikan cost yang lebih murah, apakah semua unsur ( shell & tube ) harus memiliki material tahan korosi atau unsur - unsur tertentu saja yang harus memiliki material tahan korosi, hal ini dipengaruhi oleh apakah penempatan fluida di shell atau tube. Umumnya harga material yang tahan korosi lebih mahal dari pada material yang kurang atau bahkan tidak tahan terhadap korosi. 


Jika kedua aliran baik aliran panas ( Hot Stream ) maupun aliran dingin ( Cold Stream ) bukan merupakan aliran yang korosif, maka tidaklah menjadi suatu permasalahan untuk penempatan fluida apakah di shell atau di tube , namun jika fluida salah satu dari kedua fluida tersebut adalah fluida yang korosif tentu berbeda lagi. Jika fluida yang korosif ditempatkan di bagian tube maka hanya komponen bagian tube saja ( seperti tube, channel dan channel cover serta bagian tubesheet ) yang harus memiliki material tahan korosif ( atau dengan kata lain superior metallurgy material ), sedangkan apabila fluida korosif tersebut ditempatkan dibagian shell, maka tidak hanya komponen tube saja ( komponen luar tube ) yang harus tahan korosi namun komponen bagian shell ( seperti shell, shell cover, floating head cover, dan tubesheet , baffle ) juga harus terhadap korosi.

Untuk dua buah STHE yang identik ( baik itu dari panjang tube, diameter shell, ketebalan tube, tube diameter) maka design STHE yang dimana fluida korosif ditempatkan dibagian shell akan lebih mahal bila dibandingkan ditempatkan dibagian tube. Oleh karena itu fluida korosif ditempatkan pada bagian tube.

Fouling

Fouling dapat diartikan sebagai endapan yang tidak diinginkan pada permukaan perpindahan panas. Fluida dengan tingkat fouling yang tinggi biasanya ditempatkan pada bagian tube, karena pembersihan secara mekanik ( mechanical cleaning ) pada bagian dalam tube ( inside tube ) lebih mudah dari pada bagian luar tube ( outside tube ). Jika fluida proses adalah fluida dengan tingkat fouling serta viskositas tinggi, sebaiknya penempatan fluida proses dibagian tube perlu dipertimbangkan kembali. Penempatan fouling dan viscous fluid baik pada bagian shell atau tube masing – masing memiliki efek terhadap cost yaitu pertama apabila fluida tersebut ditempatkan di shell maka intial cost ( fixed cost ) STHE lebih rendah dikarenakan laju perpindahan panas yang baik ( lihat bagian Viskositas ) namun operating cost akan lebih tinggi hal ini disebabkan oleh tingginya frekuensi cleaning dan sulitnya melakukan cleaning pada bagian shell ( outside tube ) , yang kedua apabila fluida tersebut ditempatkan dibagian tube, maka initial cost akan lebih besar sementara operating cost akan lebih kecil.

Meminimalkan fouling dapat dilakukan pada saat melakukan design, salah satu cara meminimalkan fouling pada bagian shell ( jika fluida ditempatkan dibagian shell ) adalah dengan cara mengoptimalkan design baffle ( jarak antar baffle dan baffle cut ). Pada bagian shell terdapat suatu area yang dinamakan dengan dead space, dead space ini terdapat pada kedua sisi baffle ( lihat gambar dibawah ini ) :


Pada gambar diatas, warna hitam menunjukkan dead space, dimana pada dead space tersebut banyak terbentuk fouling. Dengan mengoptimalkan design baffle, berarti meminimalkan dead space area sehingga mengurangi fouling. Kedua gambar diatas memperlihatkan efek dari jarak antar baffle dan baffle cut. Baffle cut yang optimum adalah antara 20% – 30 %, kebanyakan literatur merekomendasikan penggunaan baffle cut sebesar 25% ( optimum value ). Untuk proses yang hanya melibatkan panas sensible pada shell ( cooling, heating ), sebaiknya menggunakan horizontal cut baffle, sementara untuk proses yang melibatkan perubahan fase ( seperti kondensasi, vaporization ) digunakan vertical baffle cut. Rasio baffle spacing/shell diameter yang baik akan mengurangi jumlah fouling yang terbentuk pada shell, nilai rasio yang disarankan ( rule of thumb ) adalah sebesar 0.3 – 0.6. Pemilihan baffle cut dan baffle spacing yang baik akan menghasilkan cross flow yang lebih tinggi dan hanya terdapat sedikit leakage dan baypass stream, pada gambar diatas cross flow ditandai dengan aliran yang diberi anak panah pada bagian shell.
  
Pressure

Untuk aliran fluida bertekanan tinggi maka sebaiknya ditempatkan pada bagian tube. Dengan menempatkan fluida bertekanan tinggi pada bagian tube akan memberikan cost yang lebih rendah. Dengan menempatkan fluida yang memiliki tekanan tinggi ( internal pressure ) pada bagian tube, maka hanya pada bagian tube saja yang akan didesign sedemikain rupa sehingga tahan terhadap internal pressure , semakin tinggi internal pressure, maka tube akan memiliki ketebalan atau thickness yang tinggi pula, jika fluida bertekanan tinggi ditempatkan pada shell, maka tidak hanya shell saja yang harus tahan terhadap tekanan, tube bagian luar juga harus tahan terhadap tekanan ( tahan terhadap external pressure )

Flowrate

Variable flowrate erat kaitannya dengan kecepatan alir, kecepatan alir berhubungan erat dengan koefisien perpindahan panas. Perhatikan persamaan koefisien perpindahan panas di tube dan shell dibawah ini :

Koefisien perpindahan panas tube, hi





Koefisien perpindahan panas shell, ho





Koefisien perpindahan panas tube dipengaruhi oleh, Re, Pr, diameter dalam tube, viskositas, serta thermal konduktifitas, sedangkan Koefisien perpindahan panas shell dipengaruhi oleh Re, Pr, diameter ekivalen, viskositas, serta thermal konduktifitas. Variable flowrate ( laju alir ) akan mempengaruhi besaran nilai dari Re ( reynold number ), persamaan Re pada tube dapat dijabarkan dalam beberapa bentuk :









Dimana :

Di = diameter dalam tube
ρ = densitas fluida
vt = kecepatan alir ( m/s atau ft/s )
Mt = mass flowrate tube ( kg/s atau lb/s)
μ = viskositas
NP = jumlah pass tube
Nt = jumlah tube

Sedangkan persamaan Re untuk shell











Dimana :

De = diameter ekivalen
ρ = densitas fluida
vs = kecepatan alir shell ( m/s atau ft/s )
Ms = mass flowrate shell ( kg/s atau lb/s)
μ = viskositas
Do = diameter luar tube
lb = jarak antar baffle
pt = pitch
As = cross flow area shell

Dari kedua persamaan Re baik untuk tube maupun shell diatas, kita dapat melihat variable apa saja yang mempengaruhi nilai Re tersebut. Pada tube, menaikkan nilai bilangan Re dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah pass tube misal dari 1, ke 2, 4, 6 atau bahkan 8, namun dengan semakin besar pass tube maka diameter shell akan semakin besar sementar diameter shell terdapat nilai limitnya . Menaikkan jumlah tube tidak hanya memberikan efek terhadap bagian tube tetapi juga memberi efek terhadap shell, salah satunya adalah ineffisien flow pattern pada shell. Sedangkan pada shell, bilangan Re dapat dinaikkan dengan cara memodifikasi baffle yaitu jarak antar baffle dan baffle cut. Dengan memperkecil jarak antar baffle kecepatan fluida pada shell dapat dinaikkan , dengan demikian akan memperbesar nilai Re ( lihat bagian Fouling ). Dengan demikian untuk flowarate yang rendah, sebaiknya fluida tersebut ditempatkan dibagian shell. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa nilai koefisien perpindahan panas baik pada tube maupun shell adalah fungsi dari dua buah bilangan yaitu Re dan Pr ( prandtl ), Pr adalah fungsi dari kapasitas panas, viskositas dan thermal konduktifitas. Jika pada tube, Re berbanding terbalik dengan nilai viskositas, maka bilangan Pr, nilai Pr berbanding lurus dengan viskositas, namun begitu bilangan Re lebih dominan dari pada bilangan Pr, sehingga untuk meningkatkan koefisien perpindahan panas baik pada tube dan shell lebih cenderung dilakukan usaha – usahan untuk menaikkan nilai bilangan Re dari pada bilangan Pr.

Temperature

Untuk aliran fluida dengan temperature yang cukup tinggi sebaiknya ditempatkan dibagian tube, mengingat dengan menempatkan fluida tersebut dibagian tube akan dapat mengurangi overall cost , fluida dengan temperature yang tinggi memerlukan material yang khusus ( special alloys ), jika fluida bertemperature tinggi ditempatkan pada bagian shell, maka sebaiknya bagian permukaan shell tersebut ( bagian luar shell yang memiliki kontak lansung dengan lingkungan ) sebaiknya diisolasi, apabila hal ini tidak dilakukan maka akan terjadi Heat loss. untuk proses - proses yang memerlukan pemanasan seperti Heater, tentu saja hal ini akan sangat merugikan mengingat besarnya heat loss yang terjadi, karena fluida panas yang seharusnya memberikan panas ke fluida dingin harus kehilangan panas ( ke lingkungan ).

Sumber :
  1. Eduardo Cao, Heat Transfer in Process Engineering, 2010, McGraw Hill
  2. R. Mukherjee, Conquer Heat Exchanger Fouling, 1996, Hydrocarbon Processing
  3. R. Mukherjee, Practical Thermal Design of Shell & Tube Heat Exchanger, 2004, Begel House Inc.
  4. R.K Sinnot, Chemical Engineering Design Vol.6 4th Ed, 2005, Elsevier
     
sumber asli :
http://blog.unsri.ac.id/chemeng%20sai/opp/penempatan-fluida-pada-sthe-tube-side-vs-shell-side-/mrdetail/13907/


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons